Penyapu Jalanan Bak Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

On 26 Apr 2010 / In / Reply

Perlahan sampah itu bergerak di jung sapu, dedaunan yang sudah masanya berhenti produktif untuk hari ini menggugurkan diri dibantu oleh belaian sang angin, di tangisi oleh hujan dan embun pagi. Sret-sret bunyi ujung lidi yang menayatu mengumpulkan daun-daun tua dan beberapa kantogn plastik sisa aktivitas manusia.

Bajunya putih dengan topi di kepala, berpacau dengan waktu sebelum mentari terbenam jalanan harus bersih, karna nanti ia yang mengambil kebijakan di negri ini akan lewat dan berkata “pekerjaan saya telah menghasilkan karya” dan lupa untuk berkata “petugas kebersihan yang paling berjasa”.

Pagi masih berembun, mentari sepertinya belum bangun. Dua rakaat kau tunai, lantas siap untuk berangkat. Bergegas tuk laksanakan tugas, sapu di kanan, pengki di kiri, terucap basmallah segera jalankan amanah.

Penyapu jalan, berseragam kuning, bertebaran di atas trotoar jalan. Bersihkan yang kotor, ambil sampah agar kota menjadi indah. Penyapu jalan adalah pahlawan, pahlawan tanpa tanda jasa. Bersemangat di bawah terik, tak menyerah pada lelah.


Sejenak berleha, waktu istirahat telah tiba. Di seberang sana, rumah makan itu sesak oleh karyawan kantoran, tapi, hanya air dari botol kemasan yang mengalir sebagai penambah tenaga usir dahaga.

Penyapu jalan, berjalan susuri keramaian, ambil sampah demi rupiah, buat orang di rumah.

Saya digaji perhari 25.000, dihitung 26 hari kerja karena 4 harinya kan libur. Saya libur tiap selasa mas.” Jawabnya sambil tersenyum sumringah. ini udah lumayan mas, dulu pas saya pertama jadi tukang sapu, saya Cuma dibayar 5.000 doang. Tapi, pelan-pelan si bos naekin gaji saya.

Artikel Terkait:

Reply